TANAH KERING MEMAKI HUJAN

Dibuat : 17.49 / 30-12-2013

Ditulis : Fikih Hidayatulloh

Sore hampir magrib hujan basahi jalanan, sebuah kejutan dihari gelap tanpa penerangan, tanah Kering itu tak harapkan hujan turun hari ini. Beberapa hari yang lalu Tanah Kering telah mengatur janji temu untuk malam ini. Ya, Tanah Kering janji bertemu Bulan untuk berkencan.
Janji yang lama diharapkan hampir pasti dibatalkan, itu jika hujan tak berhenti sampai malam nanti, jika hujan menghalangi bulan muncul malam ini. Rasa rindu yang lama menunggu untuk bertemu harus kembali menunggu, jika hujan tak mengerti yang tanah kering rasakan saat ini. Rindu itu kian menggebu sebab beberapa minggu tak bertemu.

Tanah Kering murung wajahnya, matanya berkaca berlinang mulai basah, tatapnya berbeda dengan tanah kering biasanya. Lakunya penuh keresahan, gugup, gelisah dan terlihat mulai marah. Tanah kering basah dibanjiri air matanya. Selanjutnya Tanah Kering harus menunggu basahnya menghilang, waktu bertemu bulan entah kapan lagi akan datang.

Tanah Kering marah memaki membabi buta, sebab hujan tak juga menunjukan tanda-tanda mulai reda. Harapan jumpa hampir dipastikan sirna, sebab bulan tak akan muncul diantara hujan yang melanda. Tak dapat dia melihat senyum bulan diatas sana, tak akan diarasakan hari ini indah sinar bulan. Tanah Kering harus menunggu basahnya mengering dan menunggu selimut awan tinggalkan bulan.

Waktu itu entah kapan..

Waktu ketika Tanah Kering dan Bulan dipertemukan..
Tanah Kering merindukan Bulan..
Bulan itu selalu Dia rindukan..
Cintanya mulai membenci Hujan..
Benci yang tak seharusnya dia tunjukan..

"Tanah Kering Memaki Hujan"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GADIS DESA TENGAH KOTA (Cerita Fiksi)

RASA SAKIT YANG KU RINDUKAN

IBU INDONESIA, DENGARLAH!